Tuesday, February 12, 2008

Neuropati perifer: jendela bebas nyeri terhadap neuropati yang sangat nyeri
Oleh: NFA




Ilmuwan menunjukkan sebuah teknik baru untuk mendeteksi kondisi saraf yang sangat menyakitkan, yang disebut neuropati, yang berdampak pada jutaan orang dengan diabetes dan banyak pasien lain.

Teknik yang tidak menimbulkan rasa nyeri ini berfokus pada susunan kecil di kulit yang disebut Meissner corpuscles (korpuskel Meissner), yang melapisi ujung saraf pada tangan, kaki dan bagian lain yang sangat kecil. Apabila orang menggelitik kaki kita, atau secara halus mengelus tangan anda atau mencium kita – adalah korpuskel Meissner yang mendeteksi sentuhan tersebut. Susunan yang sangat halus ini berperan sebagai sensor kecil yang memungkinkan kita untuk merasakan sentuhan halus dan tekanan.

Baru-baru ini seorang ahli saraf di Pusat Medis Universitas Rochester, bersama-sama dengan ilmuwan dari Lucid Technologies di Rochester, NY, AS menunjukkan cara baru untuk memantau susunan tersebut, yang menawarkan jendela langsung terhadap kondisi yang disebut neuropati perifer. Tim ini menunjukkan bahwa reflectance confocal microscopy, teknologi untuk mengamati kulit pas di bawah permukaan, dapat dipakai untuk melihat dan menghitung jumlah susunan saraf pada jari dan tangan seseorang. Pekerjaan ini memberi cara noninvasif pada dokter untuk mendeteksi dan memantau perkembangan kerusakan saraf pada pasien. Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Neurology edisi 4 Desember 2007.

Dokter sudah mengetahui bahwa jumlah dan kepadatan korpuskel Meissner pada tangan dan kaki seseorang menawarkan sasaran jitu terhadap derajat kerusakan saraf seseorang. Sebagaimana saraf melemah dan mati, korpuskel menghilang. Kesulitannya adalah melihat dan menghitungnya.

Baru-baru ini, dokter melakukan biopsi kecil pada kulit, membekukan dan mewarnai jaringan tersebut, kemudian menghitung susunannya. Kurang lebih sepuluh tahun lalu, ahli saraf David Herrmann, MBBCh, pemimpin penulis jurnal Neurology, membantu mengembangkan dan mempopulerkan biopsi kulit sebagai cara untuk memantau secara cermat kondisi saraf pasien. Pada waktu itu, hal tersebut adalah kemajuan besar untuk beberapa bentuk neuropati perifer dibandingkan beberapa metode sebelumnya yang membutuhkan biopsi yang lebih besar pada saraf yang banyak.

Walaupun demikian, “Mengambil sepotong kecil kulit tidak ideal,” dikatakan oleh Herrmann, lektor dari Neurology dan Pathology and Laboratory Medicine. “Hal tersebut mungkin menyakitkan bagi pasien; prosesnya mungkin lama; dan tidak mungkin dapat mengukur daerah kulit yang persis sama dari tahun ke tahun untuk melacak perkembangan penyakit.”

Beberapa tahun lalu Herrmann bertemu dengan ilmuwan dari Lucid, perusahaan informasi dan peralatan medis yang menciptakan alat untuk dokter berdasarkan temuan teknologi baru contohnya confocal microscopy. Teknologi ini memakai sinar yang menembus permukaan jaringan kulit dan melihat lapisan kulit di bawahnya. Teknologi ini sudah semakin banyak dipakai untuk melacak kanker kulit dan untuk mengamati contoh jaringan di ruang bedah.

Herrmann dan tim Lucid memulai penelitian terhadap beberapa saraf terhalus di tubuh kita, saraf yang menjangkau ujung terjauh pada tangan dan kaki. Kerusakan pada saraf tersebut mengakibatkan berbagai gejala yang mengganggu jutaan warga Amerika yang mempunyai sejenis neuropati perifer. Gejala pada kaki dan tangan termasuk mati rasa, perih, kesemutan, lemah dan nyeri.



Walaupun diabetes adalah penyebab neuropati yang paling umum, hal ini disebabkan oleh berbagai kondisi lain juga. Pasien HIV rentan untuk mengalaminya. Konsumsi alkohol secara berlebihan dapat menyebabkannya, begitu juga dengan kekurangan berbagai jenis vitamin, pengobatan kanker dan puluhan kelainan bawaan, yang paling jelas adalah penyakit Charcot-Marie-Tooth.

“Pasien sering diabaikan, dan banyak yang benar-benar menderita,” Herrmann mengatakan. “Diagnosis sering sulit. Saraf halus di kulit pada dasarnya tidak terlihat dengan teknik baku yang biasa dipakai untuk memeriksa fungsi saraf seseorang, misalnya tes konduksi.”

Oleh karena itu Herrmann mengumpulkan 15 jari kelingking – sebetulnya 15 peserta penelitian bersedia meletakkan jari kelingking mereka di bawah mikroskop. Kelompok ini melibatkan sepuluh orang yang sehat, dan lima dengan neuropati dengan berbagai penyebab, misalnya diabetes atau HIV.

Para penelitia menemukan, sebagaimana yang diharapkan, peserta yang sehat mempunyai lebih banyak korpuskel Meissner pada ujung jari kelingking mereka – kurang lebih 12 susunan tersebut per milimeter persegi, dibandingkan dengan rata-rata 2,8 pada orang dengan neuropati. Pasien dengan neuropati juga memiliki sususan saraf yang lebih sedikit di bagian dasar ibu jari.

Sementara hasilnya tidak mengejutkan, mencapai hasil dengan begitu mudah memang mengejutkan. Peserta cukup meletakkan jari kelingkingnya di bawah mikroskop selema beberapa menit. Tidak sakit, tidak berdarah dan tidak perlu mempersiapkan jaringan.

Dalam tajuk rencana mengenai penelitian ini, Peter J. Dyck, M.D. dari klinik Mayo menulis dalam jurnal, “Pendekatan ini mungkin menemukan cara terbaik untuk tactile sensation dan large fiber sensorimotor polyneuropathy.” Tetapi dia juga menunjukkan beberapa keterbatasan dari cara ini. Dyck mengatakan bahwa teknik ini membutuhkan lebih banyak orang, dan alat yang diperlukan untuk reflectance confocal microscopy mahal. Lagipula dia menyatakan perlu membedakan antara korpuskel Meissner yang sehat dan yang tidak normal.

Kemajuan dalam skrining mungkin dihargai oleh jutaan pasien. Lebih dari separuh orang dengan diabetes pada akhirnya akan mengembangkan neuropati. Kebanyakan tidak akan merasa sakit – mereka sekadar kehilangan sensasi di kaki, mengakibatkan mereka rentan terhadap luka yang dapat mengakibatkan infeksi berat. Sering kali sensasi ini hilang secara bertahap sehingga bahkan tidak disadari oleh pasien. Alat skrining yang baru membantu dokter untuk memantau pasien secara lebih cermat sehingga mereka dan pasien menyadari terjadinya kerusakan saraf dan dapat melakukan apa saja untuk mencegah kerusakan yang lebih parah.

“Neuropati adalah sangat sulit untuk diobati, dan sebagian alasannya adalah bahwa pada saat ini, biasanya kami mendiagnosisnya terlambat, setelah terjadi kerusakan yang bermakna,” dikatakan oleh Herrmann, direktur Peripheral Neuropathy Service di Strong Memorial Hospital. “Pengobatan mungkin akan lebih bermanfaat apabila kita dapat mendeteksinya lebih dini.”

“Usulnya adalah beralih dari biopsi invasif untuk memantau ujung saraf ke cara yang noninvasif dan tidak menyakitkan. Seseorang dapat melakukan hal ini sesering mungkin sesuai kebutuhan. Ini adalah upaya yang menarik untuk melacak kondisi saraf pasien,” dikatakan oleh Herrmann, yang saat ini sedang menilai cari ini pada 75 orang, didanai oleh National Institute of Neurological Disorders and Stroke.



sumber.kalbe.co.id

Wednesday, January 9, 2008

Kurang tidur berkaitan dengan risiko obesitas
(09-Jan-2008)
Oleh: NFA



Sebuah studi baru menjelaskan, diantara orang dewasa dengan kondisi kesehatan kronis, seperti penyakit jantung dan diabetes, mereka yang relatif kurang tidur lebih cenderung mengalami obesitas. Peneliti senior Dr. Kenneth Nugent dari Texas Tech University di Lubbeck dalam pernyataannya berkomentar bahwa studi terbaru ini menyarankan agar orang dewasa tidur 8-9 jam per malam untuk mempertahankan berat optimal. Temuan ini dipublikasikan di dalam Journal of Clinical Sleep Medicine Desmber 2007, berdasarkan pada penelitian 200 orang pasien di klinik pengobatan univeritas. Tidak diketahui jelas apakah kurang tidur benar-benar merupakan penyebab masalah berat badan pada pasien-pasien ini. Namun demikian, studi terdahulu menjelaskan bahwa kurang tidur kronis, melalui efeknya pada fisiologi tubuh dan tingkah laku, dapat mempengaruhi perolehan berat badan. Para peneliti menemukan bahwa pasien-pasien yang mengatakan mereka tidur kurang dari 7 jam setiap malam hampir 3 kali lebih yang manjadi obesitas dibandingkan paien-pasien yang tidur 8-9 jam. Diantara para wanita, baik yang tidur pendek maupun tidur panjang (lebih dari 9 jamper malam) tampaknya berisiko obesitas lebih besar. Pola ini tidak terlihat pada pria. Menurut tim Nugent, kondisi medik pasien maupun penanganan yang mereka terima, menjelaskan kaitan antara tidur dan obestias. Hal yang sama terjadi ketika para peneliti melihat pada jumlah aktivitas fisik Faktor lain yang berkaitan dengan obesitas adalah alkohol, tidak merokok, umur muda (antara 18-49 tahun), diabetes, hipertensi dan gangguan tidur (sleep apnea). Waktu tidur pendek mungkin berkaitan dengan berat badan untuk sejumlah alasan. Salah satunya berkaitan dengan tingkah laku. Semakin banyak waktu seseorang terjaga, semakin banyak peluang untuk makan. Ada juga bukti bahwa kurang tidur meningkatkan kadar hormon ghrelin, yang menstimulasi rasa lapar, sebaliknya menurunkan kadar hormon penekan rasa lapar, hormon leptin. Menurut tim Nugent, semua ini meningkatkan kemungkinan bahwa tidur 8 jam setiap malam dapat membantu orang mengendalikan berat badannya, termasuk masalah-masalah kesehatan kronisnya. Nugent mengatakan bahwa belum jelas apakah memanipulasi atau tidak waktu tidur pada orang dewasa akan mencegah penambahan berat badan atau memfasilitasi penurunan berat. Pertanyaan ini diperlukan dalam trial terapi bilamana tidur yang baik

sumber.kalbe.co.id
Kematian akibat serangan jantung menurun dalam 6 tahun
Oleh: NFA





Kalbe.co.id - Sebuah studi internasional paling besar menjelaskan bahwa hanya dalam kurun waktu 6 tahun, angka kematian dan gagal jantung pada pasien-pasien serangan jantung yang dirawat inap telah menurun tajam, kebanyakan karena penanganan yang lebih baik. Menurut para peneliti, trend yang menjanjikan secara bersamaan meningkatkan penggunaan obat-obat penurun kolesterol, obat-obat pengencer darah yang kuat, dan angioplasti (prosedur yang membuka sumbatan arteri). Studi ini dipublikasikan dalam Journal of the American Medical Association (JAMA. 2007;297:1892-1900). Menurut pimpinan penulis Dr. Keith Fox, seorang profesor kardiologi di Universitas Edinburgh, Hasil ini benar-benar dramatis karena faktanya untuk pertama kalinya ditunjukkan pada setiap orang penurunan dalam pengembangan gagal jantung yang baru. Studi 6 tahun ini melibatkan hampir 45.000 pasien di 14 negara yang mempunyai serangan jantung atau sumbatan arteri parsial berbahaya. Persentase pasien yang meninggal di rumah sakit atau yang mengalami gagal jantung dipangkas hampir setengahnya dari tahun 1999 sampai tahun 2005. Pasien-pasien penderita serangan jantung yang ditangani, kebanyakan lebih sedikit mengalami serangan kembali dalam 6 bulan setalah masuk rumah sakit, dibandingkan pasien-pasien yang ditangani 6 tahun sebelumnya. Ini merupakan tanda bahwa usaha lebih agresif dari para dokter dalam beberapa tahun belakangan ini bekerja. Terdapat juga tanda penanganan pada jantung pasien yang lebih baik telah menyelamatkan hidup, tapi tidak terlihat dalam studi internasional skala besar ini. Menurut Fox, hal ini terjadi di luar perkiraan, karena terjadi dalam waktu tahun. Studi baru melanjutkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa angioplasti telah kebanyakan digunakan oleh orang yang menderita nyei dada namun tidak dalam kondisi darurat serangan jantung. Namun prosedur populer ini, yang biasanya menggunakan stent untuk menjaga pembuluh darah tetap terbuka, masih merupakan alat yang kuat untuk menyelamatkan mereka yang mendapat serangan jantung atau yang berisiko tinggi. Penelitian menunjukkan bahwa di tahun 2005, 4,6% pasien serangan jantung meninggal di rumah sakit, dibandingkan 8,4% pada tahun 1999. Gagal jantung terjadi dalam 11% pasien serangan jantung di tahun 2005 vs hampir 20% di tahun 1999. Hanya 2% mendapat serangan jantung tahun 2005, dibandingkan 4,8% yang terjadi tahun 1999. Hasil perbaikan juga ditemukan pada mereka yang tertahan sebagian, yang meliputi berkurangnya keparahan serangan jantung. Para peneliti mengatakan bahwa perbaikan ini kemungkinan sebuah konsekuensi langsung dalam praktek baru yang diikuti oleh pedoman mutakhir dari organisasi-organisasi para dokter jantung ternama di AS dan Eropa. Rekomendasi di dalam pedoman tersebut termasuk penggunaan aspirin atau obat pengencer lebih poten, beta bloker untuk menurunkan kerusakan jantung, statin untuk menurunkan kolesterol, ACE inhibitor untuk merelaksasi pembuluh darah dan angioplasti untuk membuka blokade pembuluh darah segera setelah tiba di rumah sakit. Penggunaan masing-masing penanganan ini meingkat selama studi dan dalam beberapa kasus lebih dari 2 kali lipat. Contohnya, 85% pasien jantung yang diteliti mendapat obat kolesterol di tahun 2005 dibandingkan 37% di tahun 1999. 78% mendapat pengencer darah poten dibandingkan 30% di tahun 1999. 53% mendapat angioplasti cepat dibandingkan dengan hanya 16% pada tahun 1999. Menurut Dr. Steven Nissen, mantan presiden American College of Cardiology dan seorang dokter spesialis jantung di Cleveland Clinic, studi ini tidak membuktikan penanganan yang direkomendasikan dapat menyelamatkan jiwa, tapi hanya kasus saja. Dia gembira bahwa apa yang tertulis dalam pedoman telah digunakan oleh para dokter di seluruh dunia. Juru bicara American Heart Association, Dr. Sidney Smith mengatakan bahwa hasil ini merupakan yang diharapkan terjadi dari usaha keras di bidang ini beberapa dekade lalu. Sayangnya, banyak pasien yang terlambat ditangani sebelum datang ke rumah

sumber.kalbe.co.id

Sunday, December 30, 2007

Konsep pemberian nutrisi pasien : Hypocaloric Feeding
(09-Jul-2007)


Pada saat kondisi kritis, respon tubuh manusia terhadap keadaan stress menyebabkan peningkatan proses glukoneogenesis dan lipolisis yang dapat mencetuskan terjadinya hiperglikemia dan dapat meningkatkan kadar trigliserida darah (kondisi ini dinamakan over feeding syndrom). Konsep pemberian nutrisi tradisional dengan memberikan asupan kalori berlebih dapat memperberat gangguan metabolik yang telah ada. Selama ini pemenuhan kebutuhan nutrisi seseorang dihitung melalui Resting Energy Expenditure dikalikan aktivitas fisik lalu dikalikan lagi dengan jenis stress/stress factor (berdasarkan tabel konstanta)

Saat ini konsep pemberian nutrisi pasien bergeser kepada prinsip baru yaitu dengan hypocaloric feeding. Konsep hypocaloric feeding memiliki potensi dalam memperbaiki nutrisi tanpa membebani kondisi stress yang sedang berlangsung. Berbagai studi menunjukkan bahwa melalui konsep hypocaloric feeding, selain aman ternyata juga mampu mencapai keseimbangan nitrogen. Manfaat lain yang terlihat adalah perbaikan dari kontrol glikemik, menurunkan lama perawatan di ICU serta menurunkan lama pemakaian ventilator dan kejadian infeksi.

Berikut prinsip-prinsip pemenuhan kebutuhan energi berdasarkan hypocaloric feeding:

1. Untuk memenuhi kebutuhan kalori pasien dari teori baru ini adalah cukup menggunakan rumus Resting Energy Expenditure dari rumus Harris-Benedict tanpa perlu memperhitungkan aktivitas fisik dan stress factor. Atau jika diambil gambaran kasarnya kebutuhan energi dasar orang dewasa adalah 25 Kkal/kgBB/hari.

2. Untuk mencegah overfeeding syndrome pada pemberian nutrisi parenteral ada 3 konsep yang dapat dipegang oleh pendekatan hypocaloric feeding :

Tentukan kebutuhan energi pasien. Batasi penggunaan glukosa sekitar 3,5-4 mg/kg/menit. Gunakan kombinasi dengan lipid ; lebih baik lagi dengan menggunakan formula 3 in 1 (satu kantong berisi kombinasi protein, karbohidrat dan lemak).
Pantau kadar gula darah pasien untuk mencegah hiperglikemia.
Jaga status imun pasien. Hindari penggunaan asam lemak tak jenuh ganda (PUFA=Poly Unsaturated Fatty Acid) secara berlebih karena dapat menekan sistem imun.

3. Untuk pasien sepsis dan trauma kebutuhan Energy Expenditure adalah: untuk minggu pertama Total Energy Expenditure 25 dan 31 Kkal/kgBB/hari; untuk minggu ke 2 TEE: 47 dan 59 Kkal/kgBB/hari.


sumber.kalbe.co.id
Lima cara menghindari C-section (bedah Caesar)
(06-Sep-2007)





Pemerintah Amerika dan pada ahli kebidanan sedang bekerja keras menurunkan jumlah wanita yang menjalani bedah Caesar. Tahun 2004, 29% bayi yang Amerika dilahirkan dengan bedah Caesar, suatu peningkatan lebih dari 40% sejak tahun 1996. Sejak menjadi pembedahan mayor, bedah Caesar mengandung risiko bagi ibu, termasuk infeksi, pendarahan dan nyeri. Menurut kantor Departement of Health and Human Service bagian kesehatan wanita, bayi-bayi yang dilahirkan dengan bedah Caesar lebih banyak bermasalah dengan pernapasan segera setelah melahirkan. Menurut lembaga ini, banyak para ahli berpikir bahwa sebagian besar bedah Caesar tidak diperlukan.

Berikut ini cara bagaimana menghindari bedah Caesar, kecuali Anda benar-banar memelukannya.

1. Jangan diinduksi kecuali diperlukan secara medis

Studi bertahun-tahun menunjukkan bahwa menginduksi persalinan sering mengarah pada bedah Caesar. Dr. Michael Klein, seorang profesor emeritus kedokteran keluarga dan anak-anak dari University of British Columbia, yang mempelajari bedah Caesar mengatakan, jika Anda memutuskan mendapatkan induksi karena dokter obsgin berangkat keluar kota atau karena suami Anda berangkat keluar kota, tampaknya merupakan alasan binafid, tapi Anda akan membayar dengan meningkatnya kemungkinan bedah Caesar. Klein mengatakan bahwa studi pada ibu-ibu yang pertama kali melahirkan menunjukkan bahwa 44% yang diinduksi berakhir dengan bedah Caesar, tapi hanya 8% yang rencananya melakukan persalinan secara spontan berakhir dengan bedah Caesar. Para dokter telah mengatakan beberapa kali bahwa menginduksi wanita yang rahimnya belum siap dapat mengarah pada persalinan non produktif sehingga perlu bedah Caesar.

2. Tunggu persalinan di rumah sampai pembukaan 3 sentimeter

Dr. Elliot Main, Direktur Mutu Persalinan dari Sutter Health di Kalifornia mengatakan bahwa dukungan pada ibu-ibu tinggal di rumah pada awal persalinan adalah salah satu upaya rumah sakitnya dapat mempertahankan angka bedah Caesar tetap, walaupun secara nasional terus meningkat setiap tahun. Mengapa menunggu persalinan di rumah dapat mengurangi bedah Caesar ? Sebagian berkaitan dengan perasaan ibu. Ketakutan dapat memperlambat persalinan. Tidak ada seorangpun suka berada di rumah sakit. Ruang yang asing dan banyak orang-orang asing serta sebagian dari mereka datang membawa jarum ke tempat Anda. Rumah sakit sendiri sering disalahkan, lanjutnya. Staf medis terlalu sering melakukan intervensi yang tidak perlu sebelum persalinan dengan obat penghilang nyeri, monitor atau teknik lain yang dapat memperlambat persalinan. Bahkan praktek ini terjadi di rumah sakit terbaik, imbuh dr. Main. Di Sutter Hospital, tidak masalah bila datang dan dicek, namun harus dipahami bahwa Anda lebih aman tinggal di rumah sebentar.

3. Pilih rumah sakit dan dokter Anda dengan hati-hati

Bila akan melahirkan secara normal, penting bagi Anda untuk memilih dokter dan rumah sakit yang angka bedah Caesarnya rendah. Carol Sakala, Direktur program sebuah kelompok nirlaba Childbirth Connection mengatakan, “Misalnya suatu rumah sakit mempunyai angka bedah Caesar 18% dan yang lain 45%. Pintu RS mana yang Anda masuki akan berdampak besar pada apa yang terjadi dengan Anda.

4. Di ruang persalinan, bertanyalah jika dokternya mengatakan Anda perlu bedah Caesar

Beberapa situasi adalah benar-benar darurat dan bedah Caesar diperlukan untuk menyelamatkan hidup bayi. Menurut dr. Timothy R.B. Johnson, kepala kebidanan University of Michigan, itu bukan waktu untuk bernegosiasi. Namun dalam situasi lain, para orang tua perlu menanyakan apakah bedah Caesar benar-benar diperlukan. Contohnya, jika dokter mengatakan bayi Anda terlalu besar untuk dilahirkan melalui vagina, bisa saja Anda menanyakan ‘Dokter, apakah Anda yakin bayinya terlalu besar ? Seberapa besar ?. Menurut Johnson, kemampuan menebak ukuran bayi tidak mutlak. Dia pernah memperkirakan bayi seberat 11 pound dan ternyata hanya 7 pound.

5. Cari seorang doula (asisten non medis yang memberikan dukungan fisik, emosional, dan informasi saat hamil, sebelum melahirkan dan setelah melahirkan.

Doula atau asisten persalinan dapat membantu saran bagi para ibu saat persalinan.


sumber.kalbe.co.id
Orang-orang ingin mendiagnosis diri sendiri melalui internet
(25-Oct-2007)





Para peneliti BI Norwegian School of Management, Tor W. Andreassen dan Even J. Lanseng dalam studi terbaru mengklaim bahwa orang-orang di Norwegia telah siap untuk mendiagnosis diri sendiri melalui internet dibandingkan duduk menunggu di ruang dokter bedah.

Permintaan pelayanan kesehatan sedang tumbuh dan mengarah ke peningkatan tajam dalam pengeluaran biaya kesehatan di Norwegia, seperti terjadi di seluruh dunia. Pelayanan kesehatan Norwegia tidak seluruhnya sehat dan sedang berjuang dengan budget ketat, jumlah staf rendah dan antrian panjang.

Suatu hari, Profesor Tor W. Andreassen duduk di antrian tanpa ujung di ruang bedah dokter bersama anak muda yang menagalami batuk dan sakit dan memiliki banyak waktu untuk merenung. Anak tersebut mungkin tidak sakit berat, tapi cukup sakit untuk pergi ke dokter untuk mengetahui apa yang terjadi. “Apakah kita dapat membuat diagnosis dengan bantuan teknologi swalayan ?” Andreassen merenung dan apa yang harus dilakukan untuk membuat orang-orang benar-benar mulai menggunakan sistem swalayan.



Pioner di internet

Tor W. Andreassen adalah seorang Profesor Marketing di BI Norwegian School of Management. Dengan menggunakan teknologi swa diagnosis di sektor swasta, dia telah meningkatkan baik tingkat produktivitas maupun kepuasan. Tapi dapatkah ini ditransfer ke dalam pelayanan kesehatan nasional ?

Bersama Profesor Evan J. Langseng di BI Norwegian School of Management, Andreassen melakukan 2 studi empiris untuk mengetahui apakah populasi telah siap untuk teknologi swalayan dan perilaku apa yang mereka punya untuk membuat diagnosis diri dalam internet. Hasilnya akan dipublikasikan di dalam jurnal internasinal, the International Journal Service Industry Management.

Pada studi pertama, para peneliti mewawancarai 160 orang secara acak penduduk Asker dan Baerum terpilih untuk menguji kematangan teknologi dalam populasi. Ketika mereka melihat perkembangan baik dalam penggunaan internet dan layanan bergerak, diharapkan tidak mengejutkan bahwa kelompok terpilih mendapatkan total poin tinggi untuk kematangan teknologi. Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok ini adalah pionir yang siap menggunakan solusi teknologi baru. Ini merupakan langkah awal untuk mengenalkan teknologi swalayan kepada pelayanan kesehatan publik juga.



Nilai penggunaan diantisipasi

Para peneliti BI lalu melakukan studi terhadap 470 penduduk di Oslo untuk mengetahui perilaku mereka dalam penggunaan teknologi baru untuk mendiagnosis sendiri di internet. Studi menunjukkan bahwa manfaat antisipasi adalah faktor yang paling penting dalam kaitan melakukan diagnosis swalayan di internet. Secara singkat, peneliti mendapatkan jawaban apa yang menjadi kepedulian mereka dan apakah akan menggunakan swa diagnosis jika berarti tidak perlu pergi ke dokter. Andreassen mengatakan bahwa manfaat antisipasi ini lebih penting dibandingkan kemudahan penggunaan. Namun demikian, kemudahan penggunaan juga mempunyai peran penting yang positif. Bagi kebanyakan, ini juga merupakan sebuah kondisi bahwa solusi telah dikembangkan oleh para profesional yang mempunyai tingkat kepercayaan tinggi di masyarakat.



Manfaat utama

Pelayanan Kesehatan Norwegia dapat mempertimbangkan manfaat melalui penggunaan lebih besar teknologi swalayan. Membuat pasien dapat mendiagnosis sendiri melalui internet akan menurunkan antrian dan kebutuhan pelayanan kesehatan. 3 saran Tor W. Andreassen kepada pihak berwenang Norwegia dalam kesehatan tentang bagaimana mereka membuat orang-orang mulai menggunakan sistem swa diagnosis baru :

Fokus pada manfaat antisipasi dan kenyamanan pengguna
Fokus pada pengembangan solusi kemudahan pengunaan yang diadaptasikan kepada pengguna-pengguna melek teknologi.
Gunakan spesialis yang dikenal untuk mengembangkan sistem sehingga pengguna dapat yakin mendapatkan bantuan yang benar dari teknologi ini.

sumber.kalbe.co.id
Rahasia umur panjang mungkin tersembunyi di dalam hidrogen sulfida
(27-Dec-2007)



Hidrogen sulfida atau H2S, bahan kimia yang membuat telur busuk berbau, oleh para peneliti di Fred Hutchinson cancer Research Center secara sukses ditempatkan dalam mencit pada keadaan hibernasi metabolik yang reversibel. Saat ini telah ditunjukkan secara bermakna memperpanjang umur dan toleransi terhadap panas pada cacing nematoda atau C. elegans. Temuan oleh Mark Roth, Ph.D,. seorang anggota dari Center’s Basic Sciences Division dan Dana Miller, Ph.D., seorang peneliti pasca doktoral di laboratorium Roth, muncul dalam Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) edisi online. Dalam usaha memahami mekanisme bagaimana hidrogen sulfida menginduksi hibernasi dalam mencit, para peneliti mengamati cacng nematoda kecil, sebuah laboratorium ilmiah karena sistem biologinya mirip dengan kebanyakan yang dimiliki oleh manusia. Contohnya nematoda, seperti manusia, mempunyai sistem saraf pusat dan kemampuan reproduksi. Cacing ini juga ideal untuk mempelajari umur panjang karena cacing-cacing secara normal hidup hanya 2 sampai 3 minggu. Para peneliti menemukan hal yang mengejutkan mereka, bahwa nematoda-nematoda yang dikembangkan dalam lingkungan dengan konsentrasi H2S terkendali baik (50 ppm dalam udara ruang) tidak berhibernasi. Nemun demikian, aktivitas metabolisme dan reproduksinya tetap normal, rentang umurnya meningkat dan mereka menjadi toleran terhadap panas dibandingkan cacing yang tidak diberi perlakuan. Cacing yang diapaparkan terhadap gas H2S hidup 8 kali lebih lama dibandingkan yang tidak diberi perlakuan saat dipindahkan dari ruang udara normal (22 °C) ke lingkungan suhu tinggi (35 °C). Roth dan koleganya mengulangi hasil ini dalam 15 percobaan yang berbeda. Walaupun perpanjangan maksimum waktu bertahan hidup bervariasi di tiap percobaan, efeknya tidak berubah banyak. Rata-rata 77% cacing yang terpapar gas H2S hidup lebih lama dibandingkan cacing tanpa perlakukan. Rata-rata rentang umur cacing yang tumbuh di lingkungan H2S adalah 9,6 hari lebih besar dibandingkan populasi tanpa perlakuan, suatu peningkatan umur panjang sebesar 70%. Kebanyakan gen yang mempengaruhi umur panjang dalam C. Elegens bertindak dalam satu dari tiga alur genetik : yang mengontrol signal insulin/IGF (insulin growth factor), yang mengontrol fungsi mitokondria dan yang memodulasi efek penekanan diet. Roth dan koleganya mengamati pengaruh hidrogen sulfida terhadap masing-masing alur ini. Mereka mencurigai kerja melalui mekanisme yang berbeda. Sala satu teorinya adalah bahwa paparan alami H2S mengatur aktivitas sebuah gen yang dinamakan SIR-2.1, yang telah ditunjukkan mempengaruhi umur panjang dalam kebanyakan mahluk hidup, termasuk nematoda. Studi sebelumnya menemukan bahwa ekspresi berlebihan terhadap gen ini meningkatkan umur C. Elegans sebesar 18-20%. Penelitian hibernasi Rothmenjadi headline di seluruh dunia pada April 2005 ketika dia pertama kalinya menunjukkan bahwa pemaparan mencit terhadap sejumlah kecil hidrogen sulfida dapat menginduksi keadaan reversibel ‘hibernation on demand’, secara dramatis menurunkan suhu tubuh inti, pernapasan dan kebutuhan oksigen. Mimpi Roth di masa depan, teknik yang sama dapat digunakan untuk ‘membeli waktu’ bagi pasien-pasien sangat kritis yang jika tidak dilakukan mengakibatkan kerusakan wajah atau kematian akibat suplai darah dan oksigen yang tidak cukup ke dalam organ dan jaringan. Hipotesa Roth bahwa H2S dapat membantu mengatur suhu tubuh dan aktivitas metabolik. Hidrogen sulfida mirip dengan oksigen pada tingkat molekular karena ikatannya pada kebanyakan protein yang sama. Sebagai hasilnya, H2S berkompetisi dan mempengaruhi kemampuan tubuh menggunakan oksigen untuk produksi energi, suatu proses pembangkit energi dalam sel yang disebut oksidatif fosforilasi. Sebaliknya, penghambatan fungsi ini yang oleh Roth dan koleganya dipercaya menyebabkan organisme seperti mencit menghentikan metabolismenya dan masuk ke keadaan hibernasi menunggu pemaparan kembali ke udara ruang normal, setelah mereka mendapatkan kembali fungsi normal dan aktivitas metabolik tanpa efek negatif jangka panjang.

sumber.kalbe.co.id