Friday, July 11, 2008

PENATALAKSANAAN AWAL JANTUNG
BERDASARKAN PARADIGMA SEHAT.

Oleh : Dr.Santoso Karo-karo MPH,SpJP



Penyakit Jantung dan pembuluh darah saat ini menduduki urutan pertama penyebab kematian di Indonesia. Dari seluruh kematian hampir 25% disebabkan oleh gangguan kelainan jantung dan pembuluh darah.

"Keadaan ini terjadi lebih cepat dari yang diperkirakan semula karena 30 tahun yang lalu penyakit jantung dan pembuluh darah diperkirakan baru akan menjadi masalah utama pada tahun 2000 ke atas. Kenapa ini berlangsung lebih cepat karena adanya perubahan gaya hidup yang berkait dengan perbaikan sosial ekonomi masyarakat kita" ujar Dr. Santoso Karo-karo MPH, SpJP dalam acara simposium "Penatalaksanaan Awal Serangan Jantung dan Otak" yang diselenggarakan oleh Yayasan Peduli jantung dan Stroke" belum lama ini di Jakarta.

Menurut Santoso, penyakit jantung dan pembuluh darah dan penyakit degeneratif lainnya akan semakin banyak menggangu kualitas hidup dan membutuhkan biaya sangat besar.

"Oleh karena itu, kita perlu mawas diri dan sejak dini melakukan upaya terutama dengan menghindari gaya hidup dan kebiasaan yang bisa menimbulkan penyakit-penyakit," Ujar Santoso.

Santoso menyebutkan , secara garis besar penyakit jantung dan pembuluh darah adalah : Penyakit Jantung Koroner (PJK) atau penyakit jantung iskemik, hipertensi atau darah tinggi, penyakit jantung bawaan, penyakit otot dan selaput jantung, gangguan irama jantung dan penyakit pembuluh darah perifer.

Menurut Santoso, yang paling penting adalah penyakit Jantung Koroner (PJK) karena ini yang paling banyak terdapat pada usia produktif dan merupakan penyebab kematian utama pada usia 45 tahun keatas. Penyakit darah tinggi (Hipertensi ) terdapat pada 14% penduduk indonesia (MONICA), sedangkan penyakit jantung bawaan terdapat pada 6-8 dari 1000 kelahiran.

PARADIGMA SEHAT
Santoso mengatakan, upaya kuratif termasuk pembedahan dan intervensi non bedah demikian juga upaya sekunder pada umunya memerlukan biaya yang mahal, maka untuyk pencegahan di masyarakat sebaiknya di lakukan pencegahan primer bahkan sedapat mungkin dilakukan pencegahan primodial.

Dengan demikian, kata santoso yang menjadi sasaran adalah orang yang masih sehat dan mengingat bahwa dimulainya awal proses ateros-klerosis adalah sejak usia muda, sasaran ini harus ditujukan terutama pada penduduk usia muda.

Pengalaman di negara-negara maju termasuk Australia ini kematian akibat penyakit kardioveskular dapat diturunkan sampai 30% dan sampai saat ini masih cenderung menurun. Upaya yang mempunyai peran utama adalah pengendalian lipid dan tekanan darah melalui edukasi tentang gaya hidup sehat, konsumsi gizi seimbang serta memelihara berat badan ideal; hidup aktif berolahraga serta tidak merokok. Upaya kuratif yang mahal seperti perawatan intensif, tidak besar peranannya terhadap penurunan moralitas dalam populasi.


Upaya yang diperlukan

Orang sehat tanpa Faktor Resiko Sudah ada faktor resiko tetapi belum sakit
1. Merokok Tidak merokok menganjurkan Orang lain agar tidak merokok

Berhenti merokok seterusnya
2. Konsumsi Makanan Makanan sehat Gizi seimbang memeriksa kadar kolesterol dan gula darah Bila ada dislipidemia melakukan diet. Dan kalau perlu dengan obat untuk mencapai sasaran kadar-kadar kolesterol yang dianjurkan

Memeriksa kadar lipid secara teratur

Bila ada diabetes melakukan diet dan olah raga yang dianjurkan memeriksa kadar gula darah dan fungsi ginjal secara teratur.



3. Tekanan Darah Memeriksa tekanan darah sebelum usia kerja dan sebelum usia 40 tahun Bila ada hipertensi, memeriksa tekanan darah teratur dan menjalani pengobatan


4. Berat Badan Memelihara berat badan ideal Memelihara berat badan ideal


5. Aktifitas fisik dan
Olah raga Hidup sehari-hari yang aktif, jalan setiap hari ( daily walk) Hidup sehari-hari yang aktif dan olah raga teratur sesuai anjuran.


6. Relaksasi Hindari hidup stres dan selalu ada kegiatan relaksasi dan tidur yang cukup Hindari hidup stres dan selalu ada kegiatan relaksasi dan tidur yang cukup

Upaya ini dicakup dalam slogan Panca upaya jantung kesehatan jantung yang dicanangkan oleh Yayasan Jantung Indonesia sejak tahun ini , yaitu "SEHAT" yang merupakan singkatan dari Seimbang gizi, Enyahkan rokok, Hindari Stress, Atasi tekanan darah tinggi, Teratur berolah raga



MENDETEKSI PJKA SECARA DINI

"Apabila kita ingin mendeteksi penyakit jantung koroner (PJK) pada stadium yang sangat dini sekali (artinya belum ada penyempitan ) sampai saat ini belum ada petanda Marker yang bisa bener-bener menunjukan bahwa seseorang sudah menderita stadium awal sekali dari PJK . Kateterisasi jantung, yaitu memasukan pipa lentur kedalam jantung untuk memotret pembuluh darah itu, hanya dapat menunjukan bila sudah ada penyempitan, jadi ini bukan deteksi dini.

Pemeriksaaan ini biayanya mahal dan mempunyai resiko kematian meskipun kecil" Ujar santoso. Pemeriksaan uji latih jantung (treadmill Test) Mampu mendeteksi pada 80% orang yang sudah mempunyai penyempitan pembuluh koroner bermakna, meskipun orang tersebut tidak mempunyai keluhan atau gejala sakit dada dalam keadaan biasa. "Jadi tes ini sebenarnya juga bukan deteksi dini, namun penting apabila kita mencurigai adanya PJK terutama pada usia 40 tahun keatas dan orang-orang yang mempunyai faktor resiko. Biaya pemeriksaan relatif murah." Tuturnya lagi.

Pemeriksaan skening ultrafast bisa menunjukan adanya plak pengapuran sebesar 2 mm di pembuluh darah, namun lagi-lagi ini bukan petanda yang dini sekali. Pemeriksaan ini juyga relatif mahal meskipun bahayanya praktis tidak ada.

Oleh karena itu, kata Santoso, sebenarnya yang penting adalah mendeteksi ada tidaknya faktor resiko pada seseorang jauh sebelum terjadi kelainan di pembuluh darah. Faktor resiko yang dengan mudah dan relatif sangat murah di periksa adalah : riwayat keluarga yang menderita penyakit jantung atau stroke, tekanan darah tinggi , merokok, berat badan berlebih (gemuk), kelebihan kolesterol (dislipidemia), kencing manis (diabetes militus).

Orang yang mempunyai orang tua kandung atau saudara kandung yang meniggal tiba-tiba, atau mengalami serangan jantung atau stroke pada usia muda dibawah 60 tahun hanrus lebih tanggap. Ia harus mengusahakan agar jangan ada faktor-faktor resiko lain pada dirinya. ia harus sejak dini mengusahakan gaya hidup sehat (tidak merokok, rajin olah raga, makan-makanan sehat-seimbang dll ).

Tekanan darah tinggi dapat di deteksi dengan memeriksakan tekanan darah, pertama kali pada usia remaja, kemudian sebelum memasuki lapangan kerja , dan kalau normal, sekurang-kurannya di ulangi pada usia 40 tahun.

Berat badan dapat di periksa sejak dini, dan bila ada kegemukan (kelebihan berat badan ) segera mengusahakan menurunkannya dengan diet dan olah raga.

Kadar kolesterol perlu diperiksa pada masa kanak-kanak dan usia remaja , apabila di dalam riwayat keluarga ada faktor keturunan yang kuat , misalnya kakek sakit jantung atau stroke, ayah atau ibu juga menderita sakit jantung atau stroke.

Kadar gula darah, juga pada prinsipnya harus di deteksi pada usia dini apabila ada riwayat kencing manis yang kuat di dalam keluarga kandung.

Faktor resiko lain, seperti kadar fibrinogen, homosistein, kadar ipa, tidak begitu penting di periksa sejak dini, dan sampai saat ini belum diterima luas.



INFRAD MIOKARD AKUT

Sementara itu Dr. Jetty Sedyawan SpJP bagian kardiologi FKUI melaporkan, prevalensi penyakit kardioveskular di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun. Survei Kesehatan Rumah tangga Departemen Kesehatan RI tahun 1992 menunjukan, bahwa penyakit tersebut telah menempati urutan pertama dalam penyebab kematian. Di negara Amerika Serikat , karena upaya masyarakat, pelayanan kesehatan dan pemerintah dalam penanggulangan penyakit kardioveskular, kejadian penyakit tersebut menurun, namun masih tetap merupakan penyebab uatma kematian. Dilaporkan bahwa setiap tahun terdapat 1,5 juta pasien terkena serangan jantung atau dalam terminologis medis di sebut Infrak Miokard Akut ( IMA ) dan terjadi kematian sejumlah 500 ribu pasien pertahun. Ternaytaa 50% dari kematian tersebut terjadi pada jam pertama IMA dan pada umumnya kematian tersebut terjadi di luar rumah sakit, disebabkan fibrikasi ventrikel.

Kenyataan tersebut, Jetty menunjukan bahwa peran pra rumah sakit merupakan elemen yang strategis dalam menentukan tingkat survival. Peran masyarakat, dokter keluarga, sistem pelayanan gawat darurat dan peran rumah sakit yaitu Instansi Gawat darurat (IGD) di pusat layan kesehatan sangat menentukan dalam keberhasilan penurunan morbiditas dan mortalitas penyakit kardioveskular. Pasien, keluarga, masyarakat dan dikter keluarga diharapkan peduli perlunya penatalaksanaan IMA dengan cepat dan benar. Keterlambatan meminta pertolongan dan kurangnya kemampuan dokter yang pertama menangani pasien , bukan saja menjadikan pasien masuk dalam resiko tinggi untuk kematian akibat fibrilasi ventrikel, tetapi juga akan meurunkan efektifitas pemberian terapi trombolitik untuk menyelamatkan moikard dan mencegah meluasnya daerah infrak.

lihat sumber asli.http://new.merapi.net/umum/jantung/index.htm

1 comment:

Be The Best said...

nice site, visit us too at www.indonesiannursing.com