Friday, July 11, 2008

Rumah Sakit Pun Bisa Bikin Sakit

Suasana di sebuah rumah sakit di Jakarta saat terjadi lonjakan pasien demam berdarah beberapa saat lalu. Kondisi yang higienis, bahkan di rumah sakit sekalipun, dapat mengakibatkan infeksi, baik bagi penderita, keluarga pasien yang menunggu, maupun petugas kesehatan yang sedang bertugas.
Suasana hiruk-pikuk menyergap saat memasuki bangunan tua Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo, Jakarta, siang itu. Pasien dan keluarganya bercampur baur memadati ruang poliklinik dan tempat pengambilan obat. Sebagian pengunjung terpaksa menunggu di luar karena ruangan terlalu sesak.

Keletihan terpancar di wajah mereka. Sebagian dari mereka duduk lesehan di lorong-lorong, termasuk sejumlah anak balita. Beberapa orang lagi tidur beralaskan tikar di lorong rumah sakit tanpa memedulikan bising di sekitarnya. Sejumlah pengunjung tampak dengan lahap memakan bekal dari rumah untuk mengganjal perut.

Sementara itu, petugas kesehatan hilir-mudik, sebagian tampak mendorong kereta mengangkut pasien melintasi lorong yang dipadati pengunjung. Selama menanti giliran pemeriksaan kesehatan, kereta berisi pasien itu ditempatkan di selasar rumah sakit, bercampur dengan pengunjung lain.

Aroma obat-obatan menyengat saat berada di bangsal-bangsal rawat inap kelas tiga maupun di ruang unit gawat darurat (UGD). Di dalam bangsal, sebagian pasien tampak ditemani keluarganya.

Pada jam-jam tertentu, pasien di bangsal secara bergiliran didatangi petugas kesehatan untuk dipantau kondisinya entah dengan pengukuran tensi darah, pengambilan sampel darah untuk uji laboratorium.

Sumber infeksi

Sebagai penyedia layanan kesehatan, rumah sakit merupakan ajang pertemuan pasien, keluarga pasien, pembesuk, petugas kesehatan, bahkan pedagang asongan. Akibatnya, kebersihan lingkungan sulit dijaga, sampah bertebaran di berbagai sudut, terutama di rumah sakit pemerintah yang menjadi tumpuan warga miskin.

Kurang higienisnya lingkungan dan fasilitas perawatan kesehatan ini turut memicu munculnya infeksi. Dalam buku panduan DiagNews Edisi Khusus Program NICE disebutkan, infeksi pada umumnya dikategorikan sebagai infeksi yang diperoleh dari komunitas (CAI) atau infeksi yang didapat dari perawatan kesehatan (HAI), disebut juga sebagai infeksi nosokomial.

Istilah infeksi nosokomial mengacu pada infeksi mulai 48 jam atau berikutnya setelah masuk ke fasilitas perawatan kesehatan. Menurut dr Sardikin Giriputro, Direktur Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso Jakarta, HAI merupakan masalah sulit dalam perawatan. Kriteria terjadinya HAI adalah sewaktu penderita masuk rumah sakit tidak dalam masa inkubasi dan tak ada gejala klinis, bukan dampak dari infeksi sebelumnya, serta gejala klinis timbul lebih dari 48 jam setelah dirawat atau tergantung dari masa inkubasi.

Sejauh ini, infeksi yang terkait perawatan kesehatan merupakan masalah besar di negara-negara seperti Jerman, Italia, Inggris, dan Amerika Serikat. Rata-rata 5-10 persen dari semua pasien yang dirawat di rumah sakit di negara-negara barat terkena infeksi di dalam fasilitas perawatan kesehatan, yang menghasilkan jutaan kasus infeksi per tahun di tiap negara.

Di negara-negara berkembang, tingkat infeksi mencapai lebih dari 50 persen. Tingkat infeksi bergantung pada tiap fasilitas, bahkan di bangsal atau ruang operasi. Sejumlah studi menunjukkan 17,6 persen yang mendapat infeksi di RS Universitas Maroko—50 persen didapat dari bagian ruang gawat daruratnya. Sebanyak 16,5 persen di RS Universitas Brasil, 48,3 persen di RS militer Arab Saudi, dan 10 persen di RS Universitas India Barat di mana 67 persen pasien terkena HAI di ruang UGD.

”Infeksi di rumah sakit merupakan persoalan serius yang jadi penyebab langsung maupun tidak langsung kematian pasien. Beberapa kejadian infeksi nosokomial tidak menyebabkan kematian pasien, tetapi mengakibatkan pasien dirawat lebih lama,” kata Direktur Jenderal Bina Pelayanan Medik Farid W Husain. Saat ini, infeksi nosokomial di rumah sakit mencapai 9 persen atau lebih dari 1,4 juta pasien rawat inap di rumah sakit di seluruh dunia.

Sekitar satu dari 20 pasien HAI meninggal dunia-90.000 pasien setiap tahunnya di Amerika Serikat, dan 19.000 kasus dari MRSA (methicillin-resistant Staphylococcus aureus)-bakteri Staphylococcus aureus yang resistan terhadap obat meticilin dalam spektrum luas. MRSA umum ditemukan pada 25-30 persen di kulit semua orang. Di sejumlah negara Eropa, rata-rata 20.000 orang meninggal dunia tiap tahunnya dan sekitar 10 persen di antaranya dari MRSA.

Meningkatnya resistensi terhadap antibiotik disebabkan penggunaan yang tidak sesuai dan pengobatan sendiri, ketidakpatuhan pasien seperti penghentian pengobatan, manajemen higienitas yang tidak cukup, dan tidak mengikuti praktik yang telah terbukti.

Biaya tambahan perawatan kesehatan tiap pasien bisa lebih besar dari biaya asli perawatannya. Di AS tambahan biaya bisa mencapai 150.000 dollar AS. Beban ekonomi terkait dengan biaya langsung, kehilangan tenaga kerja, dan yang lain mencapai 90 miliar dollar AS per tahun untuk Amerika saja—biaya perawatan kesehatannya 30 miliar dollar AS.

Di Indonesia, jumlah studi mengenai masalah itu masih terbatas. Dari data statistik dunia dan tingginya tingkat infeksi di negara-negara berkembang, HAI juga merupakan masalah di Indonesia, yang mungkin juga telah memengaruhi jutaan pasien. Dengan potensi jutaan jenis infeksi di Indonesia, masalah HAI sesungguhnya lebih serius seperti halnya HIV atau flu burung. Di AS, HAI adalah penyebab kematian terbesar keempat.

Penyebab HAI

Infeksi yang terkait perawatan kesehatan disebabkan beragam bakteri, jamur, dan virus patogen disebut HAI. Infeksi ini didapat dari fasilitas kesehatan yang memengaruhi orang-orang dengan daya tahan tubuh atau imunitas menurun.

New York State Health menyebutkan, infeksi aliran darah adalah manifestasi klinis utama dari HAI, diikuti infeksi saluran kencing dan pneumonia. Infeksi lain yang juga bisa terjadi adalah infeksi saluran pencernaan, infeksi situs pembedahan, serta infeksi telinga, hidung, dan tenggorokan.

Infeksi ini ada beberapa jenis bakteri penyebabnya. Contoh, infeksi aliran darah terutama disebabkan coagulase-negative staphylococci, selain dari Staph aureus. Enterokokus, jamur, S aureus, Enterobacter, Pseudomonas, dan Acinetobakter baumannii yang meningkat adalah penyebab infeksi aliran darah. Sementara infeksi saluran kencing sering disebabkan gram-negative Enterobacteriacea diikuti jamur dan Enterococci.

Salah satu patogen utama infeksi rumah sakit adalah MRSA. Bahayanya, MRSA mempunyai kemampuan untuk memiliki gen yang resisten atau kebal terhadap antibiotik. MRSA menyebabkan 50 persen dari semua infeksi yang didapat dari rumah sakit di Amerika Serikat. Ada banyak bakteri resisten lain yang ditularkan di rumah sakit.

Ada beberapa rute infeksi dengan mikroorganisme, yaitu kontak langsung, aliran udara, peralatan yang umum, dan vektor, misalnya melalui kontak dengan pasien, pengunjung, atau di area tunggu. Sementara penyebaran secara langsung antara lain kontaminasi melalui tangan dan baju petugas, dan penularan langsung maupun tak langsung terjadi lewat obyek dari cairan tubuh, serta kontak lewat udara melalui bersin atau batuk.

Selain itu juga infeksi melalui vektor seperti tikus, gigitan nyamuk, sistem sirkulasi udara, sarana umum seperti makanan dan obat-obatan, air minum, serta higienitas. Akan tetapi, ada juga yang cara penyebarannya kurang jelas. Stetoskop bisa saja membawa patogen dari pasien sebelumnya, sedangkan formulir laboratorium bisa mengandung bakteri dari sampel yang diambil.

Kain pel juga bisa membawa kuman dari UGD ke dalam ruang bersalin, demikian juga ban kursi roda atau brankar. Bahkan, obat dan peralatan bisa menyebarkan infeksi, misalnya jarum infus yang steril dapat membawa pyrogen. Lemak sapi yang digunakan sebagai pengobatan luka bakar di daerah-daerah pedalaman juga bisa mengandung cacar sapi.

Jaga kebersihan

Manajemen higienitas yang ketat merupakan cara terbaik untuk mengurangi risiko infeksi yang diperoleh dari rumah sakit. Di Amerika Serikat, program Sistem Pengawasan Infeksi Nosokomial Nasional (NNIS) yang telah dikembangkan sejak awal tahun 1970 untuk memerangi infeksi di rumah sakit telah diikuti sekitar 300 rumah sakit menengah dan besar di 42 negara bagian secara sukarela. Kini, sistem itu telah ditetapkan sebagai jaringan pusat pengetahuan dan basis data.

”Yang harus dilawan bukan infeksi, tetapi terjangkitnya infeksi itulah yang harus dihindari. Lingkungan tidak akan pernah bebas dari patogen, tetapi jalur kebersihan dalam pengobatan seperti mencuci tangan harus jadi fokus utama untuk mencegah infeksi,” kata Kepala Subdirektorat Bina Pelayanan Medik Spesialistik di RS Khusus Ditjen Bina Pelayanan Medik Depkes drg Yosephine Lebang menegaskan.

”Kebersihan tangan juga harus dijaga untuk memutus rantai penularan infeksi karena tangan merupakan media transmisi patogen tersering di rumah sakit. Jadi, staf rumah sakit harus mencuci tangan mereka dengan cermat sebelum dan sesudah kontak fisik dengan pasien. Hai ini dilakukan dengan menggunakan sabun atau larutan aktif antibakteri secara teratur,” ujar Yosephine.

Salah satu cara pencegahan infeksi yang diperoleh di rumah sakit adalah mengisolasi pasien yang terinfeksi dan menjalankan peraturan pengisolasian ketat antara staf dan pengunjung. Hal ini meliputi pemisahan kereta, pakaian petugas, dan pembersihan alat dengan diberi kode warna. Ruangan dibersihkan dengan desinfektan setelah pasien selesai dirawat. Selain itu, pemberian resep antibiotik oleh semua dokter di rumah sakit perlu dibatasi secara ketat.

Menurut pedoman Badan Kesehatan Dunia (WHO) tentang kebersihan tangan yang diterbitkan Juli 2006, sebagai standar praktik kebersihan tangan di pelayanan kesehatan adalah dengan produk berbasis alkohol dan cuci tangan diperlukan pada situasi tertentu. Juga petugas harus menjaga kukunya agar pendek-bersih, menghindari pemakaian kuteks dan kuku palsu, serta tidak memakai cincin, gelang, dan arloji.

Masalahnya adalah bagaimana meningkatkan kepatuhan petugas kesehatan dalam menjalankan standar praktik kebersihan tangan. Menurut hasil survei di RSPI Sulianti Saroso, misalnya, meski sarana dan prasarana untuk cuci tangan tersedia, petugas tidak mencuci tangan saat akan melakukan tindakan dan baru cuci tangan setelah tindakan medis.

Penggunaan alat pelindung juga tidak sesuai peraturan, seperti tidak memakai sarung tangan, petugas masih sering tidak menyarungkan kembali jarum suntik, dan tidak mengembalikan ke tempatnya dalam pengelolaan alat tajam. Pengelolaan alat kesehatan bekas pakai sering melebihi waktu yang ditentukan, dalam pengolahan limbah juga masih terjadi pencampuran antara limbah medis dan nonmedis.

Demi meningkatkan standar keamanan pasien, Depkes telah menerbitkan aturan mengenai pedoman manajerial program pencegahan dan pengendalian infeksi di rumah sakit (PPI RS) dan fasilitas pelayanan kesehatan lain melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 270 Tahun 2007. Depkes juga menetapkan lima rumah sakit sebagai pusat pelatihan regional pencegahan dan pengendalian infeksi, yaitu RS Umum Pusat Adam Malik Medan, RSUP Dr Hasan Sadikin Bandung, RSUP Dr Sardjito Yogyakarta, RSUD Dr Soetomo Surabaya, dan RSUP Sanglah Denpasar.

Bekerja sama dengan pihak swasta, pemerintah juga meluncurkan program No Infection Campaign and Education (NICE). Program ini diracang untuk mengubah perilaku petugas kesehatan di seratus rumah sakit mulai Juni 2008 hingga Oktober 2009. Diharapkan, dari hal sederhana seperti menjaga kebersihan tangan, infeksi di rumah sakit yang bisa menyebabkan kematian pasien bisa dicegah.

kompas.com

No comments: