Sunday, April 22, 2007

Pilih Saja Dokter Yang Sepi . . .

Sebagaimana halnya kiat dokter menghadapi pasien, cara pasien menghadapi dokter yang mengobatinya pun ikut menentukan ke-sembuhan penyakitnya.

Dokter yang seharusnya menyembuhkan, setelah menulis resep, bisa saja memunculkan penyakit atau persoalan baru pada pasiennya bila antara dokter dengan pasiennya tidak nyambung.

Seperti apa sajakah itu ?

Beda dokter Indonesia dengan dokter asing adalah dalam hal waktu. Rata-rata dokter kita kelewat sempit waktunya untuk memeriksa pasien secara legal artis, secara ikut aturan medik. Tidak ada di dunia dokter yang dalam seharinya memeriksa ratusan pasien seperti di Indonesia.

Tidak mungkin beres dan benar di mata medis, dokter sebrilian apa pun kalau dalam sehari harus memeriksa pasien sebanyak itu. Di semua negara, jumlah pasien yang boleh diperiksa dalam sehari dibatasi oleh undang-undang. Itu dimungkinkan karena sistem kesehatan di negara maju, dokter digaji penuh oleh pemerintah untuk bisa hidup memadai sebagai dokter hanya dengan berpraktik di satu institusi.

Dokter kita harus cari tambahan sendiri dan praktik sore hari, sebab gajinya tak memadai untuk standar profesinya. Dokter kita rela menjadi kutu loncat dari klinik ke klinik lain agar banyak meraih sabetan tambahannya.

Krisis waktu

Kerja profesi medis seruduk sana seruduk sini, kendati kini dengan undang-undang kedokteran yang baru sudah mulai dibatasi, tetap saja bakal berdampak buruk pada pasien, kalau jumlah pasien yang diperkenankan diperiksa masih melebihi kemampuan fisik, mental, maupun rasa sosial seorang dokter.

Bagaimana seorang dokter masih bisa akurat memeriksa dan mendiagnosis kalau sudah waktunya jam tidur masih memeriksa pasien, misalnya.

Di negara maju, dokter yang melakukan tindakan (bedah, persalinan, kedaruratan medik) tidak diperkenankan lagi melakukan praktik harian. Dengan demikian tetap terjaga konsentrasinya dalam melakukan tugas profesinya. Namun, dengan pengetatan itu pun kasus malapraktik masih juga terjadi. Apalagi melihat sepak terjang praktik rata-rata dokter kita. Sepandai-pandai tupai melompat, akan terjatuh juga. Itulah maka kasus malapraktik di Indonesia tidak pernah berkurang.

Oleh karena bobot kerja rata-rata dokter kita melebihi enduran fisiknya, kesabaran mentalnya, dan ketahanan batinnya, banyak pasien tidak puas bertemu doktennya. selain hasil terapinya bisa jadi dinilai gagal, kurang sempurna, atau mungkin malah berkomplikasi.

Memang tidak semua kasus ketidakpuasan pasien akibat ulah dokter. Cara kerja minimalis, rendahnya penghargaan terhadap profesi, alitnya honorarium, adalah faktor-faktor yang menjadikan dokter kita seolah tidak profesional. Bahkan seorang profesor kita pun, pernah dibicarakan akibat bobot kerjanya melebihi kemampuan profesionalnya, sehingga bisa sampai kecolongan luput mendiagnosis yang selayaknya bila dalam kerja profesi normal bisa dilakukannya.

Sekali lagi, penyebab tidak profesionalnya rata-rata dokter kita, sebagian besar lantaran waktunya sempit untuk mendiagnosis pasien. Anamnesis (wawancara) yang seharusnya khusuk, sabar, dan cermat diamati, baru beberapa detik saja pasien bicara, ada dokter yang sudah selesal menulis resepnya.

Mungkin masih elok bila itu untuk kasus batuk-pilek sehari-hari, tetapi tidak untuk kasus berat. Sesungguhnyalah sebagian besar diagnosis penyakit harian yang datang ke kamar praktik dokter sudah bisa dipetik dari anamnesis.

Bagaimana dokter mengorek keluhan pasien, membimbing pasien untuk mengungkapkan apa yang dirasakannya. Bagaimana pula dokter pandai memilah yang subjektif dengan yang objektif, lalu menghimpun bukti-bukti medis, melakukan pemutihan fakta dan keluhan medis, sehingga seperti halnya seorang detektif, dalam waktu singkat, dokter sudah bisa mencium bau sebuah penyakit tertentu pada pasiennya.

Untuk itu perlu waktu yang tidak sempit dalam melakukan anamnesis. Kunci keberhasilan dokter ditentukan oleh kualitas anamnesis. Tanpa anamnesis yang sempurna, diagnosis bisa meleset, dan bisa jadi pasien merasa tidak puas, kendati mungkin saja sembuh. Kita tahu, karena sebagian besar penyakit sehari-hari bersifat menyembuh sendiri (self-limiting diseases).

Narrative Medicine

Sekolah dokter tidak persis mengajarkan bagaimana kiat melakukan anamnesis. Padahal, teknik menganamnesis kunci keberhasilan praktik dokter.

Dokter bertangan dingin sebagian ditentukan pula oleh bagaimana dokter secara berempati, selain bersimpati, mau mendengarkan keluhan pasien, dan tidak rajin menyela saat pasien mengungkapkan keluhannya.

Profesi dokter itu juga sebuah seni (art). Kiat dokter mendekati pasien, banyak ditentukan oleh kecerdasan dokter dalam mendengar keluh-kesah pasien. Dokter yang bisa ikut merasä«¡n keluhan pasien, lalu menerjemahkan keluhan itu ke dalam bahasa medik, seperti itulah awal kesuksesan dokter bertangan dingin.

Kenyataannya, dokter modern semakin kurang sentuhan (High tech, low touch), dan telemedicine, terapi jarak jauh, tanpa melihat tanpa menyentuh pasien, kian menjadikan praktik kedokteran terasa kering sentuhan. Bukankah kebutuhan pasien juga ingin disapa, rindu pula diperlakukan bukan seperti mesin mobil? Sayang akibat sempitnya waktu membuat dokter alpa memberikannya, dan kebanyakan dokter melakukan peran menjadi seperti montir mobil.

Melihat fakta yang meresahkan seperti itu, ada gerakan untuk mengajarkan kembali dokter untuk cerdas mendengar pasien. Mengajarkan ulang bagaimana dokter menyimak riwayat penyakit pasiennya, bersikap penuh tenggang rasa terhadap pasien. Caranya, dengan kiat, dengan sebuah sikap seni narrative medicine.

Narrative medicine diterima sebagai sebuah disiplin baru yang menekankan keterampilan mendengar dan menulis untuk membantu para pekerja medis memahami lebih baik kondisi pasiennya. Bagaimana pekerja medis menyediakan waktu cukup untuk sepenuhnya mendengar.

Bagaimana membangun program percakapan dalam sebuah disiplin medis. Bagaimana tajam dokter membayangkan perasaan sakit pasien dan membangun rasa empati terhadap kesukaran-kesukaran yang pasien hadapi.

Itu maka, menjadi dokter yang bik adalah menjadi dokter yang cerdas menyimak pasiennya (?Being a good doctor is listening,? ujar Dr. Barry Bub). Kenyataannya, sukar bagi dokter di negara sedang berkembang seperti di Indonesia untuk bisa seelok itu.

Pilih Saja Dokter yang Sepi

Faktanya di kita memang sudah seperti itu. Pasien berbondong-bondong mencari dokter yang praktiknya laris.

Bisa jadi memang dokternya bertangan dingin. Namun, bila melihat cara kerja dan sikap profesinya dalam memeriksa sudah jauh melampaui batas kemampuan profesionalnya, ada ancaman terjadi musibah medis.

Bukankah tanpa disengaja bisa saja terjadi musibah, seperti salah periksa, salah menulis resep, salah tindakan, keliru mengoperasi (ginjal kiri yang sakit yang dibuang malah ginjal kanan, misalnya), hanya gara-gara praktiknya melebihi kemampuan fisik dan mentalnya ?

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para kolega, kalau memberikan ceramah kesehatan, saya menganjurkan agar berpreferensi tidak ke dokter yang praktiknya melebihi kapasitas kemampuan wajar seorang manusia, bila kasusnya bukan yang berat dan memerfukan kecerdasan seorang dokter ahil banget.

Sebut saja untuk persalinan normal. Tak perlulah mencari dokter senior yang pasiennya ratusan. Persalinan normal bisa ditolong oleh bidan sekalipun, buat apa cari perkara memilih dokter yang kesohor ? Dampaknya bisa buruk karena dokter yang pasiennya banyak, waktunya berharga. Bisa terjadi penanganannya kurang akurat, mungkin teledor, atau menganggap kasus enteng saking sudah seringnya melakukan tindakan yang sama (menolong bersalin, bedah usus buntu, katarak), sehingga ceroboh. Nasib buruk bila kita jadi korbannya. Kejadian bakal seperti itu sangat masuk akal medis.

Sebaliknya, dokter yang tidak begitu laris kalau kasusnya bukanlah kasus berat, mungkin mengerjakannya lebih teliti, lebih care menangani pasien, sehingga musibah yang berisiko terjadi bila memilih dokter sibuk, mungkin tidak terjadi.

Jadi maksudnya, agar bisa memuaskan dalam berobat, ada baiknya bertemu dengan dokter yang bisa nyambung kalau diajak ngomong medis. Sebagian dari kesembuhan penyakit ditentukan pula, kalau bukan menjadi kunci, oleh nyambung tidaknya pembicaraan dokter dengan pasiennya. Dan tentu itu tidak boleh berarti asal nyambung yang ngalor-ngidul ngomong saham, gosip, atau politik, tetapi harus soal penyakit.

di ambil dari http://www.depkes.go.id. ditulis oleh Dr. Handrawan Nadesul, Dokter Umum

No comments: