Friday, June 8, 2007

Waspadai Bahaya yang Mengintai dari Rumah
Oleh: Dr. Ika Fitriana
--------------------------------------------------------------------------------
Kecelakaan pada anak seringkali terjadi di rumah sendiri. Mulai dari anak terjatuh dari tangga, kepala terbentur benda keras, tersiram air panas, tertelan zat beracun, hingga terpukul saat bercanda dengan saudaranya..
Bayi atau anak kecil memiliki perkembangan otak yang berbeda dengan orang dewasa. Otak anak:

Memiliki lebih banyak kandungan air
Relatif lebih tahan terhadap kerusakan ataupun kekurangan oksigen (iskemi)
Merespon suatu benturan dengan pembengkakan otak
Di sisi lain, benturan pada anak lebih peka dari pada orang dewasa pada beberapa tipe benturan karena:
Otak belum sepenuhnya dilindungi tulang yang keras
Proporsi kepala lebih besar
Otak belum sepenuhnya dilapisi mielin dan bagian yang belum terlindungi ini lebih mudah terluka.
Anak jatuh dan kepala terbentur
Efek dari benturan kepala bisa terjadi langsung karena benturannya atau tidak langsung akibat respon jaringan otak terhadap benturan tersebut dan memperparah efek langsung yang sudah terjadi.
Jatuh merupakan penyebab trauma terbanyak pada anak di bawah 4 tahun, mengkontribusi 24% dari seluruh kasus benturan kepala. Kejadian ini sering menjadi penyebab orang tua membawa anak ke ruang gawat darurat (lebih dari 1 per 100 anak per tahun), juga menyebabkan anak dirawat (lebih dari 1 per 1000 per tahun) dan hanya sedikit yang menyebabkan kematian (4 per 1 juta kasus pertahun).

Suatu penelitian pada 200 anak ditemukan- anak laki-laki lebih sering jatuh daripada perempuan (2:1), kebanyakan terjatuh dari ketinggian sekitar setengah sampai satu meter. Dan dari yang terjatuh, 15% terluka dengan 84% nya terbentur di kepala. Tidak ada kematian pada kasus-kasus tersebut.

Penelitian lain menemukan anak yang jatuh dari ketinggian sekitar 1 meter atau kurang melaporkan 64% memar atau tidak ada luka, dan hanya sedikit sekali yang mengalami cedera kepala cukup berat. Cedera kepala, punggung, dan leher jarang sekali terjadi pada ketinggian tersebut. Jika lukanya amat parah tidak sebanding dengan ketinggiannya, atau dengan keterangan jatuh di rumah, curigailah adanya suatu kekerasan pada anak.

Demikian juga anak yang jatuh dari tempat tidur, kebanyakan tak perlu dikhawatirkan karena 67% tidak terluka, 32% lecet-lecet atau memar ringan, dan sedikit sekali yang menderita retak tulang kepala. Tidak pernah dilaporkan kematian.

Penelitian lain di Oakland, Amerika, anak kecil yang jatuh dari ketinggian tiga meter atau lebih kebanyakan mengalami patah tulang sederhana dan memar, sebagian kecil menga-lami cedera tulang tengkorak. Menurut peneliti, bayi dan anak kecil relatif lebih tahan terhadap benturan akibat jatuh.

Anak senang melompat-lompat di sofa atau tempat tidur. Banyak kecelakaan terjadi akibat permainan ini dan cukup sering orang tua membawa anaknya ke gawat darurat. Sebagian besar anak berusia kurang dari 6 tahun, dan 61%-nya jatuh ke lantai, 15% jatuh ke tempat tidur, dan 24% terbentur benda lain. Sebagian besar mengalami benturan dan lecet kepala, tetapi ada pula yang sampai di rawat di rumah sakit. Disimpulkan permainan ini cukup sering menyebabkan kecelakaan.

Benturan Kepala dan Kekerasan pada Anak

Benturan kepala yang terjadi pada anak selalu harus diwaspadai apakah ini benar kecelakaan atau kekerasan. Orang tua yang sibuk tentu tak bisa sepenuhnya mengawasi anak. Anak dipercayakan pada pengasuh. Kapan perlu waspada bahwa benturan kepala ini adalah bentuk kekerasan pada anak:

• a Perdarahan pada Retina Mata
Suatu penelitian tahun 1992 menemukan anak yang jatuh secara tak sengaja (kecelakaan), dari 75 anak semuanya normal, tetapi pada yang disengaja, semuanya mengalami perdarahan retina. Penelitian lain menemukan perdarahan retina dengan patah tulang tengkorak pada anak terjadi karena adanya dorongan tenaga yang luar biasa yang tidak disebabkan oleh “sekedar” jatuh.

Pada benturan tak sengaja dapat pula ditemukan perdarahan retina tetapi tipe dan lokasinya berbeda. Pada kecelakaan, perdarahan retina terjadi pada satu mata dan hanya mengenai sebagian saja, pada kekerasan, retina yang terkena luas dan mengenai kedua mata.

Benturan Kepala Disertai Kejang dan Gangguan Kesadaran
Di jurnal Pediatrics dilaporkan bahwa anak yang mengalami kekerasan biasanya luput dari pengawasan sampai mereka terluka cukup parah, kejang atau kesadarannya menurun (mengantuk terus, gelisah, hingga koma). Pada anak kecelakaan, gambarannya lebih berupa benjol akibat kepala mereka membentur lantai atau meja.

• Shaken Baby Syndrome
Temuan khas pada anak dengan shaken baby syndrome adalah trauma kepala yang tertutup (tidak terlihat dari luar), perdarahan retina di kedua mata, patah tulang yang samar, ada bukti luka lama dan baru, biasanya terlambat dideteksi, dan penjelasan dari pengasuh yang tidak jelas atau membingungkan. Menurut Dr. Bernard Knight, ahli forensik senior yang dilansir jurnal Lancet, adanya sindrom ini memperkirakan 95% adanya kekerasan.

Gawat atau tidak ya?
Kebanyakan memar pada kepala tidaklah serius. Pada anak yang normal dan cukup besar (lebih dari dua tahun), memar atau benjol ringan saja tidaklah perlu mengkhawatirkan orang tua. Anak bisa saja menangis karena nyeri atau takut tetapi tak lebih dari 10 menit. Bisa digunakan kompres dingin selama 20 menit untuk mengurangi nyeri. Hubungi dokter jika :

Anak mengeluh sakit kepala yang bertambah berat
Bicaranya terganggu
Pusing, kepala berputar yang terjadi berulang
Muntah lebih dari dua kali
Menabrak-nabrak benda saat berjalan
Keluar darah atau cairan dari hidung dan telinga
Sulit dibangunkan, tampak mengantuk terus
Anak manik-manik mata (pupil) lebarnya tidak sama
Kejang.

sumber.http://www.sahabatnestle.co.id

No comments: